LEGIUN VETERAN REPUBLIK INDONESIA

LEGIUN VETERAN REPUBLIK INDONESIA
KLIK LVRI

Senin, 18 November 2013

PARA PEJUANG 1945 BERUSAHA UNTUK MENGHALAU PENJAJAH DI NKRI










 JEPANG MENYERAH 



PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 


 

10 Nopember 1945 adalah puncak awal semangat Para pejuang'45 untuk mengusir Penjajah yang akan menduduki kembali.



9 Desember 1945 juga tidak kalah hebatnya karena awal pertempuran melibatkan Tentara Organik Pertama menguji kekuatan dengan Tentara Sekutu di Bojongkokosan Sukabumi yang di akui oleh Sekutu sebagai Pertempuran yang melelahkan di Pulau Jawa....
 Pertempuran tersebut baru reda menjelang waktu subuh, menurut catatan Letkol A.J.F. Doulton, sebagai berikut:
When dawn came, the Patialas had lost eight killed and had twentyfive wounded. The events of the 11th were depressing. The Patialas with the main convoy advanced only eight mile, battling hard the whole way.
(Doulton, 1951:295)

Maka Lahirlah sebagai "HARI KARTIKA JUANG"


Selasa, 13 September 2011

Dua sekawan yang pernah bersama sama meniti hobby hampir sama


Dua Tokoh Design Grafis menjadi 2 Aliran Lukis yang berbeda di Kota Bandung, 2 sekawan semasa kecilnya (muda). yg tidak pernah tertulis dalam Biografi masing2,
1. (alm) H. Barli Sasmitawinata, lahir 18 Maret 1921, Meninggal 8 Februari 2007, sebagai Pelukis Kanvas Kondang. meniti karir mulai 1935 (pada orang Belgia) >>  (BARLI MUSEUM)
2. (alm) A. Achmid, lahir 1 Oktober 1921, Meninggal 25 Desember 1995, sebagai Pelukis Design Grafis. di kota Bandung, meniti karir mulai 1935 (pada orang Belanda) di Jl. Braga, Bandung >> (AMIDJAJA )

Keduanya :
1. @Barli sebagai Pembuat Logo Kodam Siliwangi Pertama (Kepala Macan)
2. @A.Achmid sebagai Pembuat Logo Lasykar Beruang Merah (pimp. Alm.Abdulah Saleh) dan ikut mendirikan Batalyon Sukapura Tasikmalaya (pimp. Sani Lupias), juga sebagai pengibar Sangsaka Merah Putih pertama di Tower Lanud Husein Sastranegara (Andir) Bandung
Keduanya Bertemu dari sekian lama terpisah, dan bertemu pertama dan terakhir pada, 8 Februari 1994

Senin, 10 Mei 2010


PERJUANGAN RAKYAT JAWA BARAT
MELAWAN PENJAJAH SETELAH PROKLAMASI
KEMERDEKAAN DEMI MENEGAKKAN NKRI

PENGANTAR

1.   UMUM
    Kekuasaan Dai Nippon telah tumbang. Kekuasaan yang membawa penderitaan bangsa Indonesia selama 3 ½ tahun lamanya. Ribuan penduduk Indonesia telah menjadi korban kobaran Perang Dunia-II. Perang yang bukan menjadi perang kita.
    Seluruh isi perut bumi pertiwi dikuras habis, dari harta benda sampai kuli kerja paksa atau romusha, ribuan orang laki-perempuan menjadi korban kuli kerja paksa ini, belum lagi terhitung mekarnya pengemis yang tumbuh akibat peperangan itu. Dimana-mana kita menjumpai kemiskinan, penderitaan dan penghianatan.
    Perang dunia ke-II benar-benar meratakan kemiskinan serta perasaan putus asa. Banyak anak kehilangan orang tuanya, banyak orang kehilangan teman dan kekasihnya. Murung muram dan kelam itulah suasana semasa pendudukan Jepang. Tiada warna keceriaan lagi, kecuali prihatin yang berselubung dengan perasaan takut dan sedih. Inilah Bangsaku bangsa Indonesia.
    Setelah Jepang menyerah kalah terhadap sekutu tanggal 15 Agustus 1945, terjadi banyak perubahan di Indonesia khususnya di Jawa Barat. Saat proklamasi kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 17 Agustus 1945, sebenarnya Indonesia secara defacto masih dibawah kekuasaan Jepang.
Walau Jepang telah menyerah, sekutu baru akan menerima secara resmi penyerahan Jepang tanggal 2 September 1945.
    Apapun urusan Jepang dengan Sekutu, setelah proklamasi Kemerdekaan R.I. para Pejuang dan Pemerintah R.I. serta rakyat Indonesia tidak akan membiarkan kemerdekaan itu lepas kembali.
    Para pejuang bersama rakyat bahu-membahu, bergabung bersama untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan, bahkan untuk itu, segera dibentuk suatu Badan Keamanan Rakyat (BKR) dengan melakukan mobilisasi terhadap para pemuda untuk bergabung.
    Para pemuda bersemangat menaikan bendera Merah Putih dan meneriakan pekik merdeka, sambil menurunkan bendera Hinomaru. Para Pemuda segera bergerak mengisi kekosongan dan merebut kekuasaan dari Jepang, sebelum Sekutu (Inggris dan Belanda) akan mengisinya.
    Sementara itu tentara sekutu mulai berdatangan di Jawa mula-mula dalam jumlah sedikit, tapi lama kelamaan kekuatannya bertambah besar. Satu Divisi tentara Inggris yang modern dan telah mempunyai pengalaman bertempur selama Perang Dunia II, dengan didukung oleh kekuatan udara dan laut didaratkan di P. Jawa secara diam-diam, Belanda dengan NICA-nya pun mengirimkan pasukan-pasukan tempurnya untuk didaratkan di Jawa. Tentara Belanda yang mula-mula hanya terdiri dari beberapa Batalyon saja lama-kelamaan makin kuat dengan kedatangan pasukan-pasukan yang segar dari negeri Belanda, sehingga pada pertengahan tahun 1946 di Jawa Barat saja mencapai kekuatan satu divisi penuh dengan perkuatan-perkuatannya. Bersama dengan kedatangan tentara sekutu, datang pula sejumlah tim RAPWI yang akan mengurus pemulangan para tawanan perang dan interniran sekutu yang disebut APWI, yang selama perang disekap Jepang dalam sejumlah kamp diseluruh Pulau Jawa.
Pemerintah Indonesia dengan pihak sekutu mulai mengadakan kerja sama untuk menangani masalah pemulangan APWI. Bersamaan dengan pemulangan APWI, juga tentara sekutu menangani tentara Jepang yang harus dilucuti, diadili dan dikirimkan kembali kenegrinya.
    Tanggal 5 Oktober 1945 pemerintah mendirikan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). BKR sebagai organisasi semi militer yang sebelumnya aktif bersama rakyat untuk merebut kemerdekaan, kemudian dilebur dalam organisasi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sesuai penetapan pemerintah no.2 / SD / tanggal 2 Januari 1946. Secara kronologis TKR ini berubah menjadi :
a.    Tentara Keselamatan Rakyat (TKR)
b.    Tentara Republik Indonesia (TRI) Darat, Laut dan Udara
c.    Tentara Nasional Indonesia (TNI) berdasarkan penetapan Presiden RI tanggal 5 Mei 1947   
       terdiri dari TNI-AD TNI-AL dan TNI-AU.
d.    Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI/ terdiri dari AD, AL dan AU).
e.    Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS)
f.      Kembali menjadi APRI tanggal 19 Mei 1950.
g.    Berdasarkan keputusan Kasad No. 83/KASAD/PNT/50 tanggal 20 Juni 1950 sebutan 
        APRIS menjadi Tentara Nasional Indonesia.
h.    Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) berpisah kembali dengan Kepolisian Negara R.I.
Peranan TNI dalam mengamankan Pancasila, disaat Republik Indonesia baru saja diproklamirkan, dengan jalan melakukan terror penculikan bahkan hendak mengadakan Coup terhadap pemerintahan yang syah, TNI selalu siap diperintah untuk menumpas dan mengamankan NKRI dari rongrongan yang tidak menghendaki tegaknya NKRI.
Sepanjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia, NKRI selalu diganggu oleh golongan yang tidak menghendaki NKRI tetap eksis, oleh kelompok dan golongan yang muncul dengan gerakan Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK) maupun golongan separatisme yang sampai saat ini masih ada dan dalam hal ini TNI bersama dengan Rakyat khususnya di Jawa Barat telah berhasil menumpas mereka baik gangguan dari dalam negeri maupun yang datang dari Luar negeri.
Pada Era Reformasi TNI telah mengalami berbagai hujatan, yang mengakibatkan kekuatan TNI menjadi lemah, tetapi kini para penghujat telah menjadi sadar kembali bahwa eksistensinya TNI masih diperlukan.
2.  MAKSUD DAN TUJUAN
Penyusunan buku sejarah ini sangat relevan dengan misi dan visi veteran.
Misi Veteran adalah :
a.    Pewarisan nilai-nilai 1945
b.    Pembangunan Nasional
c.    Pertahanan Keamanan Nasional (Cadangan Nasional).
Visi Veteran adalah :
a.    Membina potensi Nasional Veteran R.I. dalam rangka ketahanan Nasional serta perjuangan bangsa demi kelestarian NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
b.    Memperjuangkan perbaikan Sosial ekonomi, pendidikan dan kebudayaan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pada umumnya serta Veteran R.I pada khususnya demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
c.    Ikut memelihara persahabatan antar bangsa demi terwujudnya ketertiban dunia yang bersadarkan kemerdekaan abadi dan keadilan sosial.

Pewarisan nilai-nilai 1945 adalah nilai Intrinsik yaitu nilai yang telah mendapat kesepakatan seluruh rakyat Indonesia bahwa nilai itu baik dan perlu dilestarikan termasuk nilai Intrinsik ialah.
a.    Nilai dasar yaitu :
1)    Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila
2)    Nilai-nilai yang terdapat dalam UUD 1945
3)    Nilai-nilai yang terkandung dalam Proklamasi 17-8-1945
b.    Nilai operasional dapat berubah (Kuantitatif dan Kualitatif) sesuai dengan dinamika dan kreatifitas kehidupan bangsa Indonesia.

Adapun maksud dan tujuan penulisan buku Sejarah ini ialah :
a.    Maksud Pembuatan buku ini mengemukakan perjuangan rakyat Jawa Barat dalam menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia selama dalam era penjajahan (1945-1949) menentang negara Kolonial yang ingin menjajah kembali Nusantara.
b.    Tujuan penerbitan buku ini disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia terutama Generasi Mudanya yang sekarang dalam era Reformasi terkena Amnesia sejarah.
3. RUANG LINGKUP menguraikan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh rakyat Jawa Barat dalam menghadapi penjajah Jepang, Inggris dan Belanda dengan mengemukakan perjuangan rakyat Jawa Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia melawan penjajah dan menyelesaikan keamanan dalam negeri terutama di Jawa Barat dengan mengemukakan perjuangan kemerdekaan di wilayah Jawa Barat dengan tokoh-tokoh pelakunya, disamping peristiwa penting yang ditonjolkan, ditambah juga cerita/kejadian dari daerah yang menonjol berupa Bunga Rampai perjuangan rakyat Jawa Barat.
4.  TATA URUT Menguraikan urutan-urutan Operasi/kegiatan Rakyat Jawa Barat sebagai berikut :
a.    Pendahuluan
b.    Pertempuran Konvoi Bojong Kokosan
c.    Peristiwa Bandung Lautan Api
d.    Hijrah Siliwangi dan Long March Siliwangi
e.    Gerakan APRA dan Kemerdekaan Indonesia
f.    Menyelesaikan Operasi DI/TII di Jabar
g.    Bunga Rampai peristiwa yang menonjol di Jawa Barat



KATA PENGANTAR EDITOR UMUM
    Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945, terasa dikalangan cendekiawan suatu keperluan untuk menulis kembali sejarah Indonesia, tidak lain karena penulisan-penulisan yang diwariskan oleh sejarawan kolonial sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan masyarakat Indonesia dewasa ini.
Sudut penglihatan yang tercermin dalam karya-karya mereka terutama memusatkan perhatian kepada peranan bangsanya yang neerlando-sentrisme semacam itu perlu diganti dengan Indonesia-sentrisme yaitu pandangan dari sudut penglihatan yang berpusat pada Indonesia sendiri. Pemikiran sekitar pandangan baru ini telah dikemukakan oleh beberapa ahli pikir sebagai salah satu usaha untuk mengarahkan usaha pemikiran serta penulisan sejarah lokal khususnya dan sejarah Indonesia umumnya yang memadai.
Disamping tujuan untuk memperdalam pemikiran sejarah Regional perjuangan rakyat Jawa Barat yang merupakan bagian dari sejarah Nasional, diperbincangkan pula keperluan yang sangat mendesak ialah penulisan buku-buku sejarah untuk keperluan sekolah-sekolah. Kenyataannya bahwa buku-buku sekolah yang dipakai, kalau bukan terjemahan atau saduran dari buku-buku karangan sejarawan Belanda, yang belum mewujudkan sejarah nasional dalam arti yang sebenarnya contoh buku yang terakhir dibuat untuk sekolah-sekolah tidak memuat peristiwa Gerakan 30 September, sehingga buku itu harus ditarik dari peredaran, ini pekerjaan yang sia-sia.
Mudah-mudahan buku yang disusun MADA LVRI JABAR ini memenuhi keinginan yang diharapkan sebagai sumbangan pikiran dari Legiun Veteran Republik Indonesia Propinsi Jawa Barat memadai dan bermanfaat bagi bangsa Indonesia dalam memperdalam kesadaran akan peranan sejarah sebagai sarana penting untuk menimbulkan kesadaran nasionalnya dengan mengenal identitas bangsanya melalui sejarahnya.
Berbicara soal sejarah maka untuk menyatukan pengertian bahwa Sejarah adalah saksi dari sang waktu, obor dari kebenaran, nyawa dari ingatan, guru dari penghidupan dan pembawa warta dari masa lalu. Sedangkan fungsi sejarah adalah :
Pertama :  Historis yang dapat mempelajari proses-proses bekal pengetahuan.
Kedua    :  Pewarisan dari generasi tua kepada generasi muda.
Ketiga    :  Komunikatif integrative yang merupakan media komunikasi dan media integrasi.
Disadari sepenuhnya oleh panitia bahwa pengajaran sejarah merupakan dasar bagi pendidikan dalam masa pembangunan nasional, terutama untuk menggembleng jiwa generasi muda dengan membangkitkan pada mereka suatu kesadaran bahwa mereka anggota dari suatu nasional. Kini generasi muda kita sedang menderita Amnesia Sejarah, mengapa demikian karena berbicara soal sejarah tidak lepas dari para penguasa yang berkuasa saat itu.
Sebagai contoh sehebat apapun peristiwa sejarah yang terjadi di Jawa Barat selalu dimarginkan oleh pemerintah, bahkan sejarah Nasional Indonesia yang dibuat akhir-akhir ini, tidak memuat peristiwa Gerakan 30 September 1965, oleh karena itu buku yang sudah jadi ditarik lagi dari peredarannya.
    Mengawali Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Propinsi Jawa Barat, dimulai dari kedatangan Tentara Sekutu yang mendarat di Pulau Jawa dalam rangka Tugas RAPWI (Recovery of Allied Perisonners of War and Interners) yaitu :
1.    Melucuti Tentara Jepang yang ada di Indonesia dan mengembalikan ke negeri asalnya
       (Jepang).
2.    Mengurusi tawanan sekutu yang ditawan Jepang.
Menjelang berakhir Perang Dunia ke-II mulai bulan Juli 1945 wilayah Indonesia masuk kedalam Komando South East Asia Command (SEAC) dibawah pimpinan Panglima Sekutu Laksamana Muda Lord Louis Mounbatten.
Dalam rangka menegakkan dan mempertahankan Kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia, Bung Karno sebagai Presiden RI dan selaku pemimpin Besar Revolusi, telah menyatakan bahwa ada dua sifat perjuangan yang berbeda namun harus dilaksanakan secara simultan.
Yang pertama adalah “Perjuangan Diplomasi” untuk memperoleh Pengakuan dunia Internasional (de jure).
Sedangkan yang kedua adalah “Perjuangan Bersenjata” untuk menghadapi hal-hal yang buruk kita semua harus siap sedia untuk melawan pihak para penjajah yang ingin menguasai tanah air kita.
    Perjuangan diplomasi pada tahap awal nampaknya cukup menggembirakan. Tatkala pada tanggal 29 September 1945, tentara sekutu yang diwakili oleh  Tentara Inggris dibawah pimpinan Letjen Sir Philips Christison mendarat di Jakarta. Ia selaku Panglima Tentara Sekutu di Indonesia, pada tanggal 30 September 1945 menyatakan pengakuannya terhadap Pemerintah Republik Indonesia yang berkuasa secara de facto. Sejalan dengan itu Lord Louis Mounbatten Pemimpin Tentara Inggris di Asia Tenggara juga menyatakan, bahwa kewajiban Tentara Inggris, ialah untuk melucuti Tentara Jepang dan menjaga ketentraman.
Namun ternyata rasa tentram ini tidak berlangsung lama, karena pada tanggal 4 Oktober 1945 Dr. H. J. Van Mook yang mengaku sebagai kepala NICA (Netherlands Indies Civil Administration) telah tiba juga di Jakarta, dengan maksud untuk memulihkan kembali Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang pernah direbut oleh Tentara Jepang pada tahun 1942. Dia menentang sikap Jenderal Christison, yang dianggapnya terlalu lunak dan tidak layak terhadap Republik Indonesia. Bahkan pada tanggal 7 Oktober 1945, di Singapura dia mendesak agar Mountbatten dan Christison mengambil tindakan yang lebih keras dan tegas.
    Kedatangan Kepala NICA ini tanggal 8 Oktober 1945 disusul dengan pendaratan 8 buah kapal pendarat, 7 kapal lainnya, 2 buah kapal pengangkut, dan 4 buah kapal selam, membawa 6500 Tentara Belanda yang telah dilatih di Inggris, disamping itu masih terdapat lagi 5000 orang bekas interniran Jepang yang telah dipersenjatai kembali.
Nampaknya apa yang diperkirakan Bung Karno sungguh-sungguh menjadi kenyataan. Bahwasanya segera setelah pihak sekutu berhasil memenangkan Perang Dunia ke-II di Asia Tenggara. Maka pihak Belanda akan berusaha memulihkan kembali Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia, seperti dalam keadaan semula sebelum mereka bertekuk lutut kepada Bala Tentara Jepang pada bulan Maret 1942.
Belanda berlindung dibelakang Tentara Sekutu dilandasi suatu janji kesepakatan antara Belanda dan Inggris pada bulan Agustus 1945, yang disebut “PERJANJIAN CHEQUERS”. Yang menyatakan bahwa Inggris berjanji untuk memberikan bantuan kepada pihak Belanda untuk kembali mendirikan jajahannya di Indonesia.
Oleh karena itu maka segala gerakan dan tindakan Tentara Inggris selaku wakil dari tentara sekutu selama berada di Indonesia, meski dengan dalih apapun pada hakekatnya tiada lain dari membantu membuat pancangan kaki bagi pihak Belanda untuk kembali memperoleh jajahannya.
Pada bulan Oktober 1945 Tentara pendudukan Inggris sudah menyebar hampir kesetiap kota-kota besar di Indonesia yaitu :
Tanggal 13 Oktober 1945 mereka mendarat di Padang dan Medan.
Tanggal 17 Oktober 1945 Inggris memilih Brigade terbaik dibawah pimpinan Brigadier N. Mac Donald (Brigif ke-37 India) tiba di Bandung.
Tanggal 19 Oktober 1945 Brigade campuran yang diberi nama CRA’s Brigade (Commander Royal Artillery Brigade) dibawah pimpinan Brigadier R.G. Bethell dikirim ke Semarang.
Tanggal 25 Oktober 1945 Brigif India ke 49 dibawah pimpinan Brigadier A. W. S Mallaby dikirim ke Surabaya.
Kedatangan Tentara sekutu di berbagai tempat di Indonesia nampaknya disambut dengan penuh kecurigaan oleh rakyat setempat. Lebih-lebih lagi nampak jelas kedatangannya selalu diikuti oleh pihak Belanda, yang seakan-akan sudah menjadi penguasa yang formal. Oleh karena itu merasa sudah mempunyai kewenangan untuk menaikkan kembali BENDERA MERAH PUTIH BIRU di gedung-gedung, serta fasilitas lain-lain yang mereka tempati.
Dengan semakin maraknya tindakan-tindakan provokatif, baik dari pihak Belanda maupun Tentara Sekutu, maka insiden tembak menembak diantara bahkan dibeberapa tempat meletus pertempuran secara besar-besaran.
Penguraian SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN RI DI PROPINSI JAWA BARAT diurutkan sesuai waktu peristiwa. Oleh karena itu Panitia menyusun urut-urutan sejarah sebagai berikut :
1.    Peristiwa Pertempuran Konvoi Bojong Kokosan.
2.    Peristiwa Bandung Lautan Api.
3.    Hijrah dan Long March Siliwangi.
4.    Gerakan Terror Apra di Bandung.
5.    Penumpasan DI/TII di Jawa Barat.
6.    BUNGA RAMPAI PERJUANGAN RAKYAT JAWA BARAT yang berisi peristiwa-peristiwa yang menonjol di daerah Jawa Barat yang tidak termuat dalam peristiwa-peristiwa tersebut no. 1 s/d no. 5 diatas.
Berikut disampaikan essensi dari peristiwa-peristiwa diatas sebagai berikut :
1.   Pertempuran Konvoy Bojong Kokosan
Adalah penghadangan terhadap pengiriman logistik dari Jakarta melalui Bogor-Sukabumi dengan tujuan Bandung, dihadang mulai dari Cigombong sampai dengan Cianjur sepanjang 81 Km Pasukan Inggris sebagai pasukan militer  Profesional dan pemenang perang Dunia Ke-II dilawan oleh pasukan TKR beserta lasykar Indonesia yang berada di Sukabumi dan sekitarnya.
Perimbangan Kekuatan :
Inggris    : 4 Yonif dan 3 Satban dan didukung oleh Royal Air Force, jumlah personil kurang lebih 4.000 orang.
Indonesia  : Resimen Ke-3 dipimpin oleh Letkol Edie Sukardi terdiri dari 4 Batalyon bersama Laskar rakyat jumlah personil kurang lebih  5.000 orang.
    Pertempuran terjadi 3 kali yaitu :
Pertempuran ke-I/penghadangan pertama (Tgl. 9 Desember 1945 s/d 12 Desember 1945)
Gencatan senjata Lokal tanggal 13 Desember 1945 s/d 12 Desember 1946
Pertempuran/Penghadangan ke-II (tanggal 10 Maret 1946 s/d 14 Maret 1946).
    Pihak Inggris mengatakan peristiwa Bojong Kokosan “a particularly vivid picture of the Blood-bath in Java” ….. sedangkan serangan udara yang dilakukan mereka mengatakan “The R.A.F. delivered the heaviest air strike of the Java War” (Buku The Fighting Cock tulisan Lieutenan Colonel A.J.F. Doulton O.B.E.)
 2.  Bandung Lautan Api
Tujuan Sekutu adalah menguasai Kota Bandung, sebagaimana menguasai Jakarta. Tanpa menguasai kedua Kota itu pekerjaan Sekutu untuk membebaskan dan memulangkan APWI akan terganggu terus menerus oleh insiden-insiden dan bentrokan-bentrokan dengan para pejuang atau Tentara Republik. Penguasaan Kota Bandung oleh tentara sekutu berlangsung dalam tiga babak :
-  Babak 1    :  Bentrokan dengan tentara Jepang
-  Babak 2    :  Bandung Utara dikuasai tentara Sekutu
-  Babak 3    :  Seluruh Bandung dikuasai tentara Sekutu.
Hal-hal yang menonjol dari Peristiwa Bandung Lautan Api adalah :
a.   Ketaatan baik Tentara maupun rakyat kepada pemerintah sebagai warga yang memiliki disiplin tinggi.
b.  Rakyat rela mengorbankan harta miliknya untuk dibakar dan ditinggalkan demi kemerdekaan tanpa pamrih.
c.    Kemampuan mengambil keputusan oleh Panglima Divisi III Kol. A.H. Nasution pada tanggal 24 Maret 1946 pukul 14.00 setelah menerima “three conflick order” Pak Nas mengeluarkan Perintah, agar semua pegawai dan rakyat sebelum pukul 24.00 sesudah meninggalkan, dan menyerang kedudukan musuh di Bandung Utara.
d.    Peirstiwa BLA melahirkan lagu Perjuangan yaitu :
a.    Halo-halo Bandung ciptaan Ismail Marzuki
b.    Ancemon kuah dangdeur digulaan
c.    Saputangan sutra putih
d.    Dll.
3.  Hijrah dan Long March Siliwangi

Gerakan Tentara Belanda yang modern telah menghasilkan kemajuan-kemajuan menguasai wilayah di Jawa Barat, tetapi Pasukan Siliwangi beserta rakyat Jawa Barat dengan melakukan operasi gerilya berhasil menguasai keadaan, inisiatip serangan ada pada pasukan Siliwangi.
Dengan perbuatan liciknya Belanda minta Bantuan PBB dan atas desakan Dewan Keamanan PBB diadakanlah perundingan antara Indonesia dan Belanda diatas kapal Amerika di Pelabuhan Tanjung Priok tanggal 17 Januari 1948, inti dari Persetujuan Renville antara lain mengharuskan Divisi Siliwangi harus pindah ke Jawa Tengah kedaerah Republik, yang waktu itu sudah semakin menciut. Perintah hijrah dilakukan mulai tanggal 1 Februari 1948 dan berakhir tanggal 22 Februari 1948, sekitar + 29.000 orang pasukan Siliwangi terpaksa meninggalkan kantong-kantong gerilyanya di Jawa Barat menuju ke Jawa Tengah.
Peristiwa Hijrah ini bagi Siliwangi merupakan :
a.    Penderitaan pertama setelah berada di Jawa Tengah, Siliwangi terkena Reorganisasi dan Rasionalisasi (RERA) sehingga sebagian mereka yang turut hirjah karena tidak masuk formasi, hidup terkatung-katung ditanah rantau.
b.    Dituduh penghianat oleh mereka yang tidak mau melaksanakan Hijrah yaitu DI/TII.
Long March Siliwangi
Siliwangi menghadapi ujian berat pada masa Hijrah, disamping menghadapi Tentara Belanda, tanggal 18 September 1948 PKI Muso melakukan pemberontakan terhadap Pemerintah RI. Bersamaan dengan itu Pasukan Siliwangi mendapat tugas untuk menumpas pemberontakan tersebut. Namun berkat kegigihan, keuletan, serta ketabahan dan keberanian pasukan Siliwangi secara gemilang berhasil menumpas pembrontak PKI Muso dan membunuh Muso sendiri didaerah Ponorogo dan Amir Syarifudin di daerah Cepu/Blora.
Tanggal 9 November 1948 Panglima Besar Soedirman mengeluarkan instruksi Nomor 1 yang dikenal dengan “PERINTAH SIASAT No. l” yang memerintahkan pasukan Siliwangi untuk bergerak dari kedudukannya guna melakukan gerakan Militer yang ke-II tanggal 19 Desember 1948.
Adapun tujuan Belanda melakukan Agresi ke-II adalah untuk menghancurkan segala potensi Republik Indonesia atau melumpuhkannya. Sedangkan Instruksi Panglima Besar Jenderal Soedirman antara lain mengatur perihal:
a.    Cara perlawanan, ialah bahwa kita tidak lagi akan melakukan pertahanan linier.
b.    Melakukan siasat/politik bumi hangus.
c.    Melakukan pengungsian atas dasar politik non-kooperasi.
d.    Pembentukan Wehrkreise-wehkreise, pasukan-pasukan yang akibat Persetujuan Renville terpaksa hijrah, seperti pasukan-pasukan dari Jawa Barat dan Ujung Jawa Timur, harus bergerak kembali menyusup, merembes ke kedudukan-kedudukannya semula.
Rencana Longmarch Siliwangi telah disusun rapi dan sudah disalurkan berupa perintah hingga tingkat Batalyon sebagai berikut:
1.    Brigade Sadikin menuju Jawa Barat sebelah utara.
2.    Brigade Syamsu menuju daerah Tasikmalaya, Garut dan Ciamis.
3.    Brigade Kusno Utomo menuju daerah Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor.
4.    Batalyon Achmad Wiranatakusumah bertugas sebagai pengawal Staf Divisi Siliwangi dan berangkat paling akhir.
Demikian Pasukan Siliwangi melakukan Long March ke Jawa Barat tanpa dukungan logistik yang memadai, makan mengandalkan bantuan dari rakyat yang dilalui seadanya, berangkat dengan keluarga yang harus dijaga disamping menjaga diri dari serangan Belanda dan ketika sampai didaerah sendiri/Jawa Barat disamping melawan Belanda juga dihadang oleh gerombolan pengacau yang menamakan dirinya DI/TII yang tidak ikut hijrah. Itulah penderitaan Pasukan Siliwangi dalam mempertahankan dan menegakan NKRI.
4.  Penumpasan Gerakan Terror APRA di Jawa Barat
Wakil-wakil kerajaan Belanda Bijzonder Federal Overleg (BFO) dan delegasi Republik Indonesia telah menghasilkan Pengakuan Kedaulatan terhadap Negara RI, berkat Konfrensi Meja Bundar (KMB) yang diselenggarakan di Ridderzaal Den Haag Negeri Belanda.
Hal ini menimbulkan rasa tidak puas dikalangan reaksioner, dan dengan segala upaya berusaha untuk merongrong dan melemahkan sendi-sendi kenegaraan RI, dengan berbagai upaya.
Adapun yang dijadikan algojo untuk gerakan ini telah didatangkan ke Indonesia seorang tentara Profesional yang bernama Raymond Pierre Westerling, dengan pangkat Kapten.
Ia mula-mula ditugaskan di Sumatera, diterjunkan disekitar daerah Medan dengan tugas mengadakan persiapan guna memungkinkan pendaratan sekutu disana. Kemudian dia ditugaskan di Sulawesi Selatan dengan tugas melumpuhkan semangat perjuangan kemerdekaan yang sedang berkobar-kobar didaerah tersebut. Ia disertai oleh 150 orang anggota Korps Speciale Troopen, ia dijuluki sebagai pembunuh yang berdarah dingin dalam waktu tiga bulan saja sang algojo telah membunuh  40.000 orang rakyat Sulawesi Selatan, dengan sadis yang luar biasa.
Selesai tugas di Sulawesi, ia ditarik ke Jawa Barat disertai 1.500 orang Speciale Troopen.
Sebelum melakukan terrornya ia dapat ide untuk merealisasikan sebuah ramalan dari buku nujum Jayabaya, dalam buku tersebut antara lain disebutkan, bahwa suatu ketika akan datang seorang Ratu Adil yang akan membawa Indonesia kepada kejayaan, kemudian disalurkan kemasyarakat bahwa pasukannya bernama “Angkatan Perang Ratu Adil”.
Dalam melakukan terrornya Westerling menghimpun tiga kekuatan yaitu :
1.    Memupuk kekuatan untuk merealisasikan seorang “Ratu Adil”
2.    Kerjasama dengan DI/ TII yang juga ingin menghancurkan Republik Indonesia
3.    Menghimpun kekuatan-kekuatan subversif asing yang memboncengi kedua kekuatan diatas.
Dengan keyakinan penuh bahwa usahanya akan berhasil, Westerling dengan keberanian penuh mengirimkan ultimatum kepada pemerintah RIS agar kekuatan militer didaerah Pasundan/Jawa Barat sepenuhnya diserahkan kepada APRA. Tentu saja ocehan gila ini tidak mendapatkan respon. Kemudian ia mengambil keputusan untuk melakukan perebutan kekuasaan dengan jalan kekerasan. Ia akan menyerang kota Jakarta yang akan ia pimpin sendiri dan penyerangan ke kota Bandung dipimpin oleh dua orang inspektur polisi yaitu Van Beelden dan Der Meulen. Serangan ke Jakarta gagal karena bantuan senjata ke Jakarta disergap oleh Batalyon Suyono di Cianjur.
Di Bandung sempat melakukan terror yaitu tanggal 23 Januari 1950 pukul 09.00 dengan kekuatan 800 orang, mereka menyerang dari arah Utara, dari Cimahi langsung menuju Bandung, sasaran mereka Markas Divisi Siliwangi di Jl. Lembong (dulu Oude Hospitaal weg) mereka membunuh tentara yang tidak bersenjata dan korban sebanyak 79 orang TNI dan diantaranya terdapat Letkol Lembong.
Penjabat Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel T.B. Simatupang mengeluarkan instruksi yang isinya agar disiapkan sejumlah Batalyon untuk menyerbu kota Bandung.
Perintah itu tidak sempat terlaksana karena kemudian dibatalkan oleh Kementrian Pertahanan RIS, bahwa Menteri telah mendapat berita dari Mayor Jenderal/KNIL Engels, gerombolan APRA telah dikuasainya dan telah dikembalikan ketempatnya masing-masing dengan dikawal oleh tentara Belanda.
5.  PENUMPASAN GEROMBOLAN PENGACAU DI/TII

Persoalan “Darul Islam” pada hakekatnya adalah persoalan politik militer yang ditimbulkan oleh sementara orang yang menginginkan Islam sebagai dasar negara dan bukan Pancasila.
Bagi mereka yang merasa tidak mempunyai harapan untuk mewujudkan cita-citanya dengan jalan parlementer, berusaha mencari jalan lain yang bersifat fight accompli, mereka memanfaatkan orang-orang Islam fanatik dan ternyata usaha mereka berhasil terutama diwilayah Priangan Timur.
Kesempatan yang dinanti-nantikan tiba disaat Siliwangi diperintahkan untuk hijrah ke Jawa Tengah, mereka dibawah pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo (SMK) tanggal 7 Agustus 1949 memproklamirkan “Negara Islam Indonesia” dengan tentaranya Tentara Islam Indonesia.
Apa sebenarnya sinerjik/keberhasilan SMK mempengaruhi pengikutnya ?
Ada beberapa hal yang menjadi sinerjik SMK yaitu antara lain :
1. Timbul dongeng-dongeng tentang keistimewaan dan kekebalan, SMK tidak pernah     memperlihatkan fotonya kecuali fotonya yang masih kecil sehingga sulit diidentifikasi tentang penangkapan dirinya.
2. Menaburkan kerahasiaan, kegaiban serta keajaiban dikalangan pengikutnya, ia mengangkat dirinya sebagai penguasa mutlak yang harus ditaati ditakuti, kalau tidak mau maka mereka dijatuhi hukuman berhianat terhadap perjuangan sucinya.
3. Seni kepemimpinan SMK terhadap pengikutnya terutama yang muda-muda guna mengikuti dan mematuhinya sebagai “Imam”,pemimpin dan pembela agama Islam.
4. Ia berhasil menanamkan kepercayaan pengikutnya, bahwa ia seperti Nabi, kadang- kadang juga menerima wahyu dari Tuhan secara langsung
Yang dilakukan oleh SMK dan gerombolannya adalah selama 13 tahun yaitu :
1.   Melakukan terror berupa kecelakaan Kereta api di :
      a.   Warung bandrek tanggal 22-2-1953
      b.   Gadobangkong tanggal 22-8-1953
      c.   Lebakjero Leles tanggal 11-8-1954
2.   Merampok dan membakar rumah rakyat.
3.   Penghadangan di jalan raya terhadap kendaraan umum dan TNI.
4.  Menipu dan meracun pasukan Siliwangi yang baru datang di Jabar (Periangan Timur) yang terkenal pertempuran di Antralina merupakan bukti nyata bahwa DI/TII/SMK dengan NII-nya sudah beritikad untuk menghancurkan TNI/Siliwangi.
5.   Menyerang pos-pos TNI yang terjadi tiap minggu.
6.  Korban jiwa, harta benda pengungsi, penggarongan, pembakaran rumah, penculikan  yang sempat tercatat pada tahun 1956 dan tahun 1957 adalah sebagai berikut :
a.    Pembunuhan berjumlah 2.677 orang
b.    Penganiayaan & penculikan berjumlah 855 orang
c.    Pembakaran berjumlah 19.873
d.    Penggarongan berjumlah 107.484
e.    Pengungsi berjumlah 537.949
f.    Tidak tercatat tahun sebelum dan sesudah 1956/1957

Demikianlah lima pokok perjuangan rakyat Jawa Barat yang heroik. Untuk melengkapi peristiwa/perjuangan lain yang menonjol diwilayah Jawa Barat disampaikan pula dalam buku ini berupa “BUNGA RAMPAI” perjuangan rakyat se-Propinsi Jawa Barat antara lain ialah Peristiwa-peristiwa :

1.  Masyarakat Rengasdengklok memproklamirkan Kemerdekaan RI tanggal 16 Agustus 1945.
2.    Peristiwa gugurnya Mayor Abdul Rachman Natakusumah Dan Yon II/Tarumanagara.
3.    Moch. Toha Pahlawan Bandung Selatan.
4.    Pertempuran sengit Jl. Waringin dan Jl. Kelenteng  Bandung
5.    Penyelamatan Panji Siliwangi di Cirikip
6.    Logistik zaman Revolusi.
7.    Kekejaman Imprialis Inggris & Belanda terhadap rakyat Jawa Barat
8.    Serangan terhadap Lembang
9.    Pahlawan/Pejuang PTT
10.  Pertahanan “KRATIBO” Subang.
11.  Perjuangan Tokoh dan Rakyat Kuningan
12.  Pemberontakan Pesantren Sukamanah, Singaparna Tasikmalaya
13.  Sejarah PKRI di Wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.
14.  Insiden-insiden pertempuran di kota Bandung dan sekitarnya.
15.  Peristiwa pertempuran desa Mandala, Kab. Cirebon.
16.  Perjuangan bersenjata rakyat Indramayu membela dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945.
17.  Pertempuran menghadang Konvoy tentara Belanda di jalan Raya Gerong, desa Patapan Kab. Cirebon.

Keterbatasan karya ini juga disebabkan oleh kenyataan bahwa belum cukup tersedia hasil penelitian, pengkajian serta penulisan dari sudut penglihatan baru pada waktu karya ini dimulai. Yang jelas ialah bahwa karya ini tidak/ belum didasarkan atas penelitian yang asli dan mendalam.
Tidak ada penulisan sejarah yang tidak memuat sifat-sifat subyektif, meskipun dalam penulisan ini diusahakan agar segala tuntutan metodologi ilmu sejarah dipenuhi, termasuk kritik sejarah, namun tidak ada anggapan bahwa hasil penulisan ini telah mencapai obyektivitas sepenuhnya. Dalam menghayati penulisan sejarah regional dari dalam atau juga sering disebut penulisan yang daerah-sentris, mau tidak mau Panitya membatasi sudut pandangnya atau titik pendirian. Dianggapnya hal itu yang paling memadai dalam situasi yang kita hadapi, ialah kenyataan bahwa pengertian “Indonesia” memang mewujudkan realitas bagi bangsa Indonesia, yaitu negara nasion yang mengikat sebagai suatu bahasa nasional. Dalam hal ini perlu kita akui bahwa pangkal tolak penggarapan penulisan sejarah ini terikat pada zaman kita sekarang ini, suatu ikatan yang tidak dapat kita lepaskan begitu saja.
Sejarah regional seperti yang dikonsepsikan disini, sama sekali tidak menyangkut pengertian bahwa sejarah bangsa Indonesia harus digambarkan dalam serba keagungan belaka sehingga obyektivitas harus dikorbankan demi penggambaran yang demikian itu. Pasang surutnya kegiatan, maju mundurnya karya kebudayaannya, timbul-tenggelamnya lembaga-lembaganya, unggul-kalahnya perjuangannya, semuanya secara bersama-sama menyusun irama sejarah regional yang sebagai nasib bersama akan mempertinggi kesadaran bangsa Indonesia sebagai nasion. Panitya berkeyakinan bahwa sejarah regional yang menggambarkan nasib bersama, dalam suka-duka, kegemilangan dan kesuraman, disamping kepahlawanan serta kewibawaan tokoh-tokoh sejarah, mampu membangkitkan rasa kebanggaan pada generasi muda, perasaan mana akan memantapkan keperibadian bangsa, serta identitasnya. Dengan demikian akan tercapai pula apa yang diharapkan dari pelajaran Sejarah Nasional, tanpa mengurangi tuntutan-tuntutan ilmu sejarah.
Akhirul kalam harapan yang terkandung dalam hati Panitya tidak lain ialah semoga karya yang tidak sepertinya ini menambah bahan bacaan bagi kaum terpelajar terutama generasi muda yang berminat kepada sejarah Indonesia umumnya, sejarah local khususnya Jawa Barat yang telah memiliki peristiwa heroik seperti di daerah/ propinsi lainnya di Indonesia. Semoga buku ini menjadi obor bagi para pembaca baik yang hendak mengetahui apa yang sesungguhnyaa terjadi di masa lampau maupun yang ingin mengambil pelajaran dari suri teladan para tokoh sejarah atau dari pengalaman-pengalaman bangsa Indonesia sepanjang masa. Saran dan kritik yang membangun dengan hati yang terbuka Panitya menerimanya untuk intropeksi diri dan perbaikkan yang perlu di masa yang akan datang.


PEMBENTUKAN KOMANDEMEN JAWA BARAT
SEBAGAI CIKAL BAKAL KODAM SILIWANGI
Setelah Letjen Urip Sumiharjo diangkat menjadi Kepala Staf Umum, beliau beserta pengikutnya kembali ke Yogyakarta untuk mendirikan Markas Besar Tentara (MBT). Yogyakarta dipilih, karena akan dijadikan basis perjuangan Republik dalam mempertahankan kemerdekaan. Ketika sampai di Yogyakarta Pak Urip mendirikan Markas Besar Tentara TKR di Hotel Merdeka. Diperkirakan MBT resmi didirikan pada 17 Oktober 1945 di Yogyakarta.
Penyusunan TKR, Sementara waktu meniru Departement van Oorlog (Dephan KNIL di Bandung sebelum perang). Semula direncanakan susunan organisasi ini masih sederhana dengan tiga Divisi di Jawa dan Satu di Sumatra. Namun kenyataannya sudah ada selusin Jenderal di Yogyakarta, dengan 10 Divisi di Jawa dan 6 Divisi di Sumatra, dan + 100 Resimen Infantri. Ke-10 divisi yang sudah ada di Jawa akhirnya di formasikan ke dalam 3 Komandemen di Jawa dan di Sumatra dengan 1 Komandemen.
Ketiga Komandemen di Jawa tersebut adalah :
1.   Komandemen I  :  di Jawa Barat dengan Panglimanya Mayjen Didi Kartasasmita/eks KNIL
2.   Komandemen II :  di Jawa Tengah dengan Panglimanya Mayjen Suratman /eks KNIL
3.   Komandemen III:  di Jawa Timur dengan Panglimanya Mayjen Mohamad/eks PETA
Ketiga Kepala/Panglima Komandemen itu diangkat berdasarkan Surat Pengangkatan Kepala Markas Besar Umum TKR Nomor : 44/MT tanggal 19 Desember 1945.
Pada prakteknya, Komandemen Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak dapat dibentuk, karena para Komandan Divisi setempat yang umumnya mantan perwira PETA tidak setuju.
Susunan pejabat Komandemen I Jawa Barat sebagai berikut :
Panglima        :   Mayjen Didi Kartasasmita
Kepala Staf    :   Kolonel A.H. Nasution
Staf yang lain :   Letkol Kartakusumah
                          Mayor Akil
                          Mayor Suryo
                          Kapten Satari
Komandemen I Jawa Barat terdiri dari 3 Divisi yaitu :
1.  Divisi I  di Banten dengan Komandannya Kolonel Kiayi Haji Sam’un Markas Divisi Serang.
2.  Divisi II di Cirebon dengan Komandannya Kolonel Asikin dan Markas Divisinya di Linggarjati.
3.  Divisi III di Priangan dengan Komandanya Kolonel Arudji Kartawinata dan Markas Divisinya di Tasikmalaya.
Ketiga Divisi diatas terdiri dari 13 Resimen dan 28 Batalyon (“Mari Bung Rebut Kembali” halaman 171 s/d 175).
Dislokasi pasukan Komandemen (lihat lampiran) dan dari Dislokasi Komandemen ini terlibat peristiwa “SILIWANGI bersama Rakyat Jawa Barat melawan penjajah setelah Proklamasi Kemerdekaan demi menegakkan NKRI” yang diuraikan dalam peristiwa : Bojong Kokosan, Bandung Lautan Api, Hijrah dan Long March Siliwangi yang akan diuraikan dalam bab-bab berikut



KLIK GAMBAR
 KLIK

 
TUNGGU INFORMASI SELENGKAPNYA

ANGKASA PURA  
BANDUNG MERAH LEMBAYUNG 
ketika dilihat dari arah Bandung Selatan. 
Bandung Menjadi Lautan Api.  








di Kulalet Bale Endah Dayeuhkolot